Sampah merupakan konsekuensi dari adanya kegiatan manusia yang begitu beragam. Setiap kegiatan manusia pasti menghasilkan sampah yang jumlah dan volumenya berbanding lurus dengan tingkat konsumsi barang yang digunakan sehari-hari, serta jenis sampah juga sangat tergantung dari material yang dikonsumsi. Sehingga pengelolaan sampah merupakan permasalahan yang sangat krusial. Sampah akan terkait dengan masalah-masalah lain seperti masalah kultural, sosial, pendidikan, lingkungan dan masalah lainnya. Permasalahan sampah ini jika tidak ditangani dengan serius akan menjadi ?bom waktu?.

Permasalahan utama di dalam pengelolaan sampah di Indonesia adalah rendahnya akses terhadap layanan pengelolaan sampah. Kondisi ini disebabkan oleh lima faktor, antara lain :

  1. Masih belum memadainya perangkat peraturan yang mendukung pengelolaan sampah
  2. Penanganan sampah belum optimal
  3. Minimnya pengelola layanan persampahan yang kredibel dan profesional
  4. Belum optimalnya sistem perencanaan pengelolaan sampah
  5. Terbatasnya pendanaan untuk mendukung keseluruhan aspek pengelolaan sampah (BAPPENAS, 2010).

Masyarakat dalam mengelola sampah masih bertumpu pada unsur penimbulan sampah kemudian dilakukan pembuangan/pemusnahan dengan dibakar atau dibuang, atau pada pendekatan akhir (end-of-pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah. Pengelolaan sampah dengan sistem end-of-pipe ini dapat menimbulkan masalah baru ditempat lain, karena kapasitas TPA sudah tidak mampu lagi menampung jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat. Sistem ini juga menyebabkan masyarakat menjadi resisten terhadap TPA, karena dianggap menimbulkan polusi dan merugikan.

Paradigma atau pandangan masyarakat yang menganggap sampah sebagai barang sisa yang tidak berguna, harus dibuang dan belum memberi nilai sebagai sumber daya yang perlu dimanfaatkan perlu diubah dan diluruskan. Setiap orang harus diberikan pemahaman dan penyadaran tentang pengelolaan sampah yang benar, sehingga akan terbentuk karakter pola hidup bersih dan sehat.

Salah satu upaya pengelolaan sampah yang perlu dikembangkan adalah dengan melibatkan peran serta masyarakat untuk bersama-sama mengelola sampah secara mandiri dan produktif. Sistem ini menekankan kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah yang dihasilkan dan tidak bergantung pada pemerintah, yaitu dengan membiasakan masyarakat untuk memilah sampah. Kegiatan pemilahan sampah ini harus dilakukan sedini mungkin pada sumbernya (perumahan, kawasan komersial dan lain-lain). Metode ini merupakan metode yang paling efektif untuk mendapatkan jenis sampah tertentu yang tidak terkontaminasi oleh jenis-jenis sampah jenis lainnya, sehingga memudahkan untuk proses daur ulang. Di sisi lain, pemilahan sampah di TPA harus dihindari karena beberapa alasan antara lain menurunkan nilai/kualitas sampah, membahayakan kesehatan manusia (pemulung) dan menyulitkan operasional serta perawatan TPA.

Pokok kegiatan dalam upaya pemberdayaan masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri dan produktif adalah adanya perubahan perilaku dalam menangani sampah, penyediaan teknologi tepat guna dan menjaga keberlanjutan program pengelolaan sampah. Mendaur ulang semua sampah dan mengembalikannya ke perekonomian masyarakat atau ke alam adalah suatu alternatif yang sangat menjanjikan, baik bagi terwujudnya lingkungan yang bebas dari sampah maupun bagi peningkatan perekonomian masyarakat. Daur ulang sampah juga akan mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam, dan dapat meminimalisasi jumlah sampah yang ada (Gunawan, 2007).

 

BANK SAMPAH

Bank Sampah adalah tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang dan/atau diguna ulang yang memiliki nilai ekonomi (Pasal 1 Permen LH No. 13 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse dan Recycle Melalui Bank Sampah). Bank Sampah dibentuk dengan Visi : ?Terwujudnya Bank Sampah yang mandiri untuk membangun ekonomi kerakyatan serta lingkungan yang bersih dan hijau sehingga tercipta masyarakat yang sehat?. Misi Bank Sampah adalah :

  1. Mengurangi jumlah timbulan sampah yang diangkut ke TPA;
  2. Mendayagunakan sampah menjadi barang bermanfaat sehingga mempunyai nilai ekonomi dan potensi yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat;
  3. Merubah perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah secara benar dan ramah lingkungan;
  4. Menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat;
  5. Menciptakan lapangan pekerjaan;
  6. Membudayakan ekonomi kerakyatan.

Tujuan dibentuknya Bank Sampah adalah mendidik dan membudayakan pengurangan sampah di tingkat masyarakat sekaligus mengambil masfaat ekonomi dari pelaksanaannya. Bank Sampah terdiri atas tiga komponen yaitu :

  1. Penabung, yaitu masyarakat/lembaga/institusi penghasil sampah
  2. Pengelola, yaitu petugas yang melayani tabungan sampah (direktur, wakil direktur, teller, customer service) yang berasal dari masyarakat
  3. Pembeli sampah/rosok/pengepul yaitu perseorangan/lembaga yang menjadi mitra bank sampah dalam mengelola sampah.

?

?

?

?

Prinsip Dasar Pengelolaan Bank Sampah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

WARGA?????????????? =?? Kelompok masyarakat/individu yang melakukan pengelolaan/ pemilahan sampah

SAMPAH???????????? =?? -??? Sampah Layak Jual : Kertas, Plastik, Besi, Kaleng

-??????? Sampah Layak Kompos : Sampah Dapur, Daun

-??????? Sampah Layak Kreasi : Plastik yang mengandung alumunium foil, potongan plastik

BANK SAMPAH? =?? Tempat untuk menabung sampah layak jual dan layak kreasi

UANG????????????????? =?? Hasil Penjualan Sampah Layak Jual

 

Mekanisme Bank Sampah :

  1. Pemilahan sampah
  2. Penyerahan sampah ke bank sampah
  3. Penimbangan sampah
  4. Pencatatan
  5. Hasil penjualan sampah yang diserahkan dan dimasukkan ke dalam buku tabungan
  6. Bagi hasil penjualan sampah antara penabung dan pelaksana.

 

Bank Sampah merupakan solusi alternatif dalam pengelolaan sampah :

 

~ ?DENGAN BANK SAMPAH : DULU SAMPAH SEKARANG BERKAH? ~